Sungguh sulit memperbaiki diri terhadap diri sendiri, apatah lagi memperbaiki diri terhadap orang lain, maka berhati-hatilah mencari sesuatu yang SEBABKAN DOSA DAN MENIMBULKAN KERUSAKAN, padahal kita diminta untuk melakukan perbaikan di atas al Haq, bukan di atas prasangka buruk.
Allah berfirman di dalam kitab-Nya:
Jika prasangka buruk itu terjadi kepada seorang muslim, bukankah itu telah menyakitinya? bukankah menyakiti seseorang tanpa kesalahan yang tidak ia perbuat adalah sebuah kesalahan yang nyata?
surat Al-Ahzab ayat 58
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. [Ahzab: 58]
cukuplah bagi kita menghukumi itu dengan zhahirnya.
Di dalam kaidah syar’iyyah disebutkan:
الْأَحْكَامُ تُنَاطُ بِِالمَظَانِّ وَالظَّوَاهِر، لَا عَلَى الْقَطْعِ وَاطِّلَاعِ السَّرَائِرِ
“Hukum-hukum itu tergantung pada berbagai dugaan dan zhahirnya, tidak pada memastikan dan melihat-lihat yang tersembunyinya.”
jika hal-hal di atas sudah kita terapkan dalam keseharian, semoga kita semua Allooh tempatkan dalam keadaan yang terbaik,
semoga kisah berikut menjadi pelajaran bagi kita semua, yang jelas-jelas berbuat kerusakan namun ada alasan di balik itu yang perlu kita ambil pelajaran.
Enam tahun setelah peristiwa Perang Badar, ada sebuah peristiwa yang sempat membuat Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu geram dan meminta agar diidzinkan membunuh orang dianggap pengkhianat oleh Umar Radhiyallahu anhu . Namun permintaan ini ditolak oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataan Umar Radhiyallahu anhu diingkari oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Kisah ini diceritakan oleh Ali bin Abi Thâlih Radhiyallahu anhu . Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan :
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami yaitu aku, Zubair dan Miqdâd.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada kami : “Pergilah kalian ke daerah Raudhah Khakh! Di sana ada seorang wanita yang sedang membawa sepucuk surat. ambillah surat tersebut !”
Lalu kami berangkat, kuda kami berlari kencang membawa kami. Lalu bertemulah kami dengan wanita (yang dimaksudkan oleh Rasulullah) itu.
Kami berkata kepada wanita itu :
“Keluarkanlah surat (yang sedang engkau bawa-pent) !”
Perempuan itu mengelak :
“Aku tidak membawa surat.”
Kami berkata lagi :
“Keluarkanlah surat itu atau kamu harus menanggalkan pakaianmu!”
Akhirnya ia mengeluarkan surat itu dari sela-sela kepangan rambutnya. Kemudian kami membawa surat itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ternyata surat itu dari Hâthib bin Abu Balta’ah untuk orang-orang musyrik di kota Mekah. Dia memberitahukan beberapa rencana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Hâthib :
“Wahai Hâthib apa ini ?”
Hâthib menjawab :
“Jangan terburu (menghukumi telah kafir[3]), wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku dahulu adalah seorang yang akrab dengan orang-orang Quraisy.”
Sufyân (salah seoang yang membawakan riwayat ini-pent) menjelaskan:
“Ia pernah bersekutu dengan mereka meskipun dia bukan berasal dari Quraisy.”
(Hathib bin Abi Balta’ah melanjutkan pembelaan dirinya-pent) :
“Para Muhajirin yang ikut bersamamu mempunyai kerabat yang dapat melindungi keluarga mereka (di Mekah). Dan karena aku tidak mempunyai nasab di tengah-tengah mereka, aku ingin memiliki jasa untuk mereka sehingga dengan demikian mereka mau melindungi keluargaku.
Aku melakukan ini bukan karena kekufuran, bukan karena murtad, bukan pula karena aku rela dengan kekufuran setelah memeluk Islam.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Dia benar.”
Umar Radhiyallahu anhu mengatakan:
“Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , biarkanlah aku memenggal leher orang munafik ini!”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :
“Sesungguhnya dia telah ikut serta dalam perang Badar dan kamu tidak tahu barangkali Allah telah melihat kepada para Sahabat yang ikut serta dalam Perang Badar lalu berfirman :
“Perbuatlah sesuka kalian karena sesungguhnya Aku telah mengampuni kalian !” Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya :
Semoga kisah dan tulisan di atas mampu membuat kita memperbaiki diri dan keadaan umat yang sudah begitu sulitnya memperbaiki diri, disebabkan banyaknya prasangka yang buruk menyelimuti kita, di keluarga bahkan di pengajian tempat kita menuntut ilmu, prasangka buruk tidak dapat di hindari, dan bahkan pula lebih sering diikuti, hingga majlispun sepi dari keberkahan.
hal-hal di atas bukan hanya apa yang bisa kita baca, tapi mampulah untuk memahami bahwa hal-hal di atas bisa menjadi rumus empiris bagi kebaikan kita bersama dan semua, aamiin.