✍️ Ada sebuah kisah dalam sejarah Islam yang sekilas terdengar seperti legenda namun nyata.
Ketika kaum Muslimin menaklukkan Tustar (sebuah daerah di sekitar Iran) pada masa Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه, mereka menemukan sebuah jasad yang telah lama meninggal.
Yang mengejutkan, jasad itu masih terjaga.
Diriwayatkan kalau orang itu telah wafat ratusan tahun silam namun jasadnya masih sangat utuh seakan-akan baru saja wafat.
Lebih dari itu, masyarakat setempat ternyata mendatangi jasad tersebut ketika mengalami paceklik. Mereka mengeluarkannya untuk meminta hujan.
Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه kemudian menulis kepada Umar رضي الله عنه untuk memberitahukan penemuan tersebut.
Setelah mendengar kabar tentang keadaan jasad tersebut, Umar menjawab:
" إِنَّ هَذَا نَبِيٌّ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالنَّارُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , وَالْأَرْضُ لَا تَأْكُلُ الْأَنْبِيَاءَ , فَكَتَبَ أَنِ انْظُرْ أَنْتَ وَأَصْحَابُكَ يَعْنِي أَصْحَابَ أَبِي مُوسَى فَادْفِنُوهُ فِي مَكَانٍ لَا يَعْلَمُهُ أَحَدٌ غَيْرُكُمَا قَالَ: فَذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو مُوسَى فَدَفَنَّاهُ ".
“Sesungguhnya ini adalah seorang nabi dari para nabi. Api tidak memakan jasad para nabi dan bumi tidak memakan jasad para nabi.”
Kemudian Umar memerintahkan agar jasad tersebut dikuburkan di tempat yang tidak diketahui manusia.
Anas رضي الله عنه berkata: “Aku dan Abu Musa kemudian pergi dan menguburkannya.”
--- Al-Musannaf, Ibnu Abi Syaibah, 7/4, dengan sanad yang shahih.
Pertanyaannya: siapa sebenarnya jasad tersebut?
Para ulama sejarah dan sirah menyebutkan bahwa jasad itu diduga sebagai Daniel عليه السلام, seorang nabi dari Bani Israil.
Daniel عليه السلام disebut hidup pada masa Bukhtanashshar (Nebukadnezar), raja yang menghancurkan Baitul Maqdis dan menawan Bani Israil.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah رحمه الله juga menyebut Daniel sebagai salah satu nabi yang memberikan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad ﷺ.
Beliau berkata:
" وقَالَ دَانْيَالُ عَلَيْهِ السَّلَامُ ـ وَذَكَرَ مُحَمَّدًا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاسْمِهِ ـ فَقَالَ: "سَتَنْزِعُ فِي قَسِيِّكَ إِغْرَاقًا، وَتَرْتَوِي السِّهَامُ بِأَمْرِكَ يَا مُحَمَّدُ ارْتِوَاءً ".
فَهَذَا تَصْرِيحٌ بِغَيْرِ تَعْرِيضٍ، وَتَصْحِيحٌ لَيْسَ فِيهِ تَمْرِيضٌ ".
“Daniel عليه السلام menyebut Muhammad Rasulullah ﷺ dengan namanya. Ia berkata: ‘Engkau akan menarik busurmu dengan kuat, dan anak-anak panah akan menjadi penuh karena perintahmu, wahai Muhammad.’
Ini merupakan pernyataan yang jelas tanpa sindiran, sekaligus pembenaran yang tidak mengandung keraguan.”
Kemudian Ibn Taimiyah رحمه الله berkata:
" فَهَذِهِ نُبُوَّةُ دَانْيَالَ فِيهَا الْبِشَارَةُ بِالْمَسِيحِ، وَالْبِشَارَةُ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَفِيهَا مِنْ وَصْفِ مُحَمَّدٍ وَأُمَّتِهِ بِالتَّفْصِيلِ مَا يَطُولُ وَصْفُهُ، وَقَدْ قَرَأَهَا الْمُسْلِمُونَ لَمَّا فَتَحُوا الْعِرَاقَ، كَمَا ذَكَرَ ذَلِكَ الْعُلَمَاءُ، مِنْهُمْ أَبُو الْعَالِيَةِ ".انتهى من "الجواب الصحيح" (5/ 275-281) .
“Inilah nubuwah Daniel. Di dalamnya terdapat kabar gembira tentang Al-Masih dan kabar gembira tentang Muhammad ﷺ. Di dalamnya juga terdapat penjelasan yang panjang mengenai sifat-sifat Muhammad dan umatnya. Kaum Muslimin membacanya ketika mereka menaklukkan Irak, sebagaimana hal itu disebutkan oleh para ulama, di antaranya Abu al-'Aliyah.”
--- Al-Jawāb ash-Shahīh, 5/275–281.
Namun apakah jasad yang ditemukan di Tustar itu benar-benar jasad Nabi Daniel عليه السلام?
Ibn Katsir رحمه الله tidak mampu memastikan hal tersebut.
Beliau berkata:
" وَهَذَا إِسْنَادٌ صَحِيحٌ إِلَى أَبِي الْعَالِيَةِ، وَلَكِنْ إِنْ كَانَ تَارِيخُ وَفَاتِهِ مَحْفُوظًا مِنْ ثَلَاثِمِائَةِ سَنَةٍ فَلَيْسَ بِنَبِيٍّ، بَلْ هو رجل صالح، لأن عيسى بن مَرْيَمَ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيٌّ بِنَصِّ الْحَدِيثِ الَّذِي فِي الْبُخَارِيِّ، وَالْفَتْرَةُ الَّتِي كَانَتْ بَيْنَهُمَا أَرْبَعُمِائَةِ سَنَةٍ، وَقِيلَ سِتُّمِائَةٍ، وَقِيلَ سِتُّمِائَةٍ وَعِشْرُونَ سَنَةً، وَقَدْ يَكُونُ تَارِيخُ وَفَاتِهِ مِنْ ثَمَانِمِائَةِ سَنَةٍ، وَهُوَ قَرِيبٌ مِنْ وَقْتِ دَانْيَالَ، إِنْ كَانَ كَوْنُهُ دَانْيَالَ هُوَ الْمُطَابِقَ لِمَا فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، فَإِنَّهُ قَدْ يَكُونُ رَجُلًا آخَرَ، إِمَّا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ أَوِ الصَّالِحِين،َ وَلَكِنْ قَرُبَتِ الظُّنُونُ أَنَّهُ دَانْيَالُ، لِأَنَّ دَانْيَالَ كَانَ قَدْ أَخَذَهُ مَلِكُ الْفُرْسِ، فَأَقَامَ عِنْدَهُ مَسْجُونًا كَمَا تَقَدَّمَ. وَقَدْ رُوِيَ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ إِلَى أَبِي الْعَالِيَةِ أَنَّ طُولَ أَنْفِهِ شِبْرٌ. وَعَنْ أَنَسِ ابن مَالِكٍ بِإِسْنَادٍ جَيِّدٍ أَنَّ طُولَ أَنْفِهِ ذِرَاعٌ. فَيَحْتَمِلُ عَلَى هَذَا أَنْ يَكُونَ رَجُلًا مِنَ الْأَنْبِيَاءِ الْأَقْدَمِينَ قَبْلَ هَذِهِ الْمُدَدِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ " انتهى من "البداية والنهاية" (2/ 40).
Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan bahwa sanad riwayat tersebut shahih sampai kepada Abu al-'Aliyah. Namun, jika benar orang itu wafat tiga ratus tahun sebelum ditemukannya, maka ia bukan nabi.
Bisa jadi ia orang saleh. Bisa juga ia seorang nabi terdahulu. Dan bisa jadi pula ia memang Daniel.
Karena itu, kesimpulan yang paling aman adalah: kaum Muslimin menemukan jasad seorang lelaki yang oleh penduduk setempat diyakini sebagai Daniel. Umar رضي الله عنه menyebutnya sebagai seorang nabi, tetapi identitas pastinya sebagai Daniel tidak dipastikan secara mutlak oleh Ibn Katsir.
Lalu mengapa Umar رضي الله عنه menyembunyikan makamnya?
Jawabannya sangat jelas.
Karena masyarakat telah menjadikan jasad tersebut sebagai sarana meminta hujan.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyah رحمه الله berkata:
" وَلَمَّا ظَهَرَ قَبْرُ دَانْيَالَ بتستر كَتَبَ فِيهِ أَبُو مُوسَى إلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - فَكَتَبَ إلَيْهِ عُمَرُ : إذَا كَانَ بِالنَّهَارِ فَاحْفِرْ ثَلَاثَةَ عَشَرَ قَبْرًا، ثُمَّ ادْفِنْهُ بِاللَّيْلِ فِي وَاحِدٍ مِنْهَا، وَعَفِّرْ قَبْرَهُ، لِئَلَّا يَفْتَتِنَ بِهِ النَّاسُ ".انتهى من "مجموع الفتاوى" (15/ 154) .
“Ketika makam Daniel ditemukan di Tustar, Abu Musa menulis kepada Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه. Umar membalas kepadanya: ‘Jika siang telah tiba, galilah tiga belas kuburan. Kemudian pada malam hari kuburkanlah dia di salah satunya dan ratakan kuburannya, agar manusia tidak terfitnah karenanya.’”
--- Majmu' Fatawa, 15/154.
Perhatikan baik-baik.
Mereka menemukan jasad yang diyakini sebagai seorang nabi.
Tetapi para Shahabat tidak menjadikannya tempat ngalap berkah.
Tidak dibangun tempat ibadah di atasnya.
Tidak dijadikan tempat meminta hujan.
Tidak pula dibiarkan menjadi objek pengagungan manusia.
Justru makamnya disembunyikan.
Bahkan dibuat tiga belas kuburan agar manusia tidak mengetahui kuburan yang sebenarnya.
Inilah pelajaran penting yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita.
Menghormati para nabi tidak berarti mengarahkan ibadah kepada mereka.
Mencintai orang saleh tidak berarti meminta hajat kepada jasad-jasad mereka.
Dan mengagungkan seorang manusia, sekalipun ia seorang nabi, tidak boleh sampai menggeser hak yang hanya milik Allah ﷻ.
Sebab jika para Shahabat membenarkan do'a kepada jasad nabi atau orang shalih, niscaya mereka tidak akan menyembunyikan jasad Daniel atau siapapun yang mereka temukan itu.
Dan kisah di Tustar ini adalah salah satu contoh yang sangat menarik tentang bagaimana para Salaf menjaga Tauhid masyarakat.
____________________________
Jum'at, 15 Rabiul Awal 1448 H
Lombok Timur, Bumi Allah
